Selasa, 29 Mei 2012

afrika TUGAS SEJARAH AFRIKA KLIPING KEBUDAYAAN DAN POLITIK DI KAWASAN AFRIKA (Disusun guna untuk memenuhi tugas Sejarah Afrika) (Dosen Pengempu mata kuliah Drs.Sugianto.M.Hum) Di susun oleh: 1.FANDU DYANGGA PREDETA 100210302003 2.EKA AULIA PITRI YANA 100210302005 3.NUZUL IRSAD PURNOMO 100210302019 4.AGENG PERISTIWA SAKTI 100210302046 5.ERLINDA RIZKY APRILIA 100210302054 PENDIDIKAN SEJARAH ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER 2012 DAFTAR ISI COVER............................................................................................................................i DAFTAR ISI...................................................................................................................ii SUARA MERDEKA(perekat komunitas jawa tengah).................................................. KOMPAS.COM(wisata budaya di asia-afrika)............................................................... KOMPAS.COM(MUSIK PENGGUGAH KEBUDAYAAN AFRIKA)............................ KOMPAS.COM(peninggalan portugis di batavia).......................................................... KOMPAS.COM[mayapada prana]Piramida Mesir : Mahakarya Manusia Raksasa.... KOMPAS.COM(proses pembuatan piramida mesir)..................................................... SUARA MERDEKA(budaya mesiryang adi luhung).................................................... KOMPAS.COM(siapa yang membuat piramida)........................................................... 1.Wisata Budaya di Asia Africa Art & Culture Festival Peristiwa bersejarah Konferensi Asia Afrika (1955) direvivitalisasi melalui sudut pandang hubungan seni budaya antarbangsa Asia Afrika. Gedung Merdeka yang terletak di kota Bandung, menjadi saksi bisu di mana para pemimpin bangsa-bangsa se-Asia Afrika (1955) menyampaikan aspirasinya untuk bersatu meraih kemerdekaan bangsanya dari kolonialisasi bangsa Eropa, serta berupaya membangun stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara di kawasan Asia dan Afrika yang bebas dan merdeka. Bandung pun menjadi ibukota Asia Afrika pada tahun 1955 yang kini diakui oleh bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Dalam upaya membuka ingatan kolektif dunia, khususnya bangsa Asia dan Afrika, pemerintah Indonesia dan anggota Konferensi Asia Africa, menggelar acara peringatan tiap tahunnya di Gedung Merdeka, Bandung.Pada tahun ini ingatan kolektif masyarakat Asia Afrika menggelar perhelatan Asia Africa Art & Culture di Gedung Merdeka, Bandung, pada tanggal 22-24 April 2008. Pada Opening Ceremony dimulai dengan pergelaran seni budaya Indonesia oleh para penari dan koreografer dari Jawa Barat. Tidak hanya itu, para delegasi yang akan mementaskan keseniannya juga ikut melakukan historical walk dari Hotel Savoy Homann hingga Gedung Merdeka. Kemudian diikuti oleh ribuan siswa-siswi kelas satu dan dua dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, serta parade kesenian tradisi Jawa Barat yang organisasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Barat.Perhelatan itu menguatkan penanda persaudaraan bangsa-bangsa Asia Afrika pada tahun ini melalui pertemuan seni budaya antar bangsa. “Bandung memiliki daya tarik objek wisata dunia. Dan kegiatan ini majadi salah satu upaya untuk mengimplemetasikan kesepakatan Konferensi Asia Afrika (KAA) dengan melakukan kerjasama di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya antar bangsa-bangsa Asai Afrika,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, H.I. Budhiyana, di Gedung Merdeka, Bandung, Rabu (23/4) pagi. Kontingen negara Asia Afrika yang turut serta dalam perhelatan Asia Africa Art & Culture Festival antara lain dihadiri oleh senimana dari Mesir dan India, sementara perwakilan dari Korea Selatan, Jepang, China dan Indonesia dihadiri oleh seniman muda dan mahasiswa/i Indonesia yang secara khusus mempelajari kebudayaan bangsa-bangsa tersebut. Perhelatan yang digelar pada Rabu (23/4) pagi dihadiri oleh ribuan masyarakat kota Bandung dan beberapa tamu negara dari Asia Afrika yang turut menyaksikan parade kesenian Jawa Barat. Sementara seni budaya Indonesia yang dikemas dalam tarian massal disajikan oleh puluhan penari dari Jawa Barat dengan menampilkan koreografi yang mengolaborasikan tarian khas Indonesia yang ada dari Sabang sampai Merauke. Tarian itu juga dikemas dengan busana tradisi elaboratif yang merupakan kolase warna-warni seni budaya Indonesia.Andri Hadi, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, menegaskan bahwa acara yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat beserta Pemda provinsi Jabar ini menguatkan hubungan erat bangsa-bangsa Asia Afrika yang terlibat dalam KAA pada tahun 1955 hingga sekarang. “Forum KAA mempererat hubungan negara Asia Afrika. Solidaritas politik dan kerjasama sosial budaya pada dasarnya adalah hubungan erat antarmasyarakat Asia Afrika. People to people contact. Bandung is capital of Asia Africa,” papar Andri Hadi di Gedung Merdeka, Bandung, Rabu (23/4) pagi.Sementara Gubernur Jabar, Danny Setiawan mengatakan bahwa perhelatan Asia Africa Art & Culture Festival adalah komitmen bangsa Indonesia terhadap KAA 1955. perhelatan itu sendiri merupakan upaya Pemda Jabar dalam merevitalisasi peristiwa bersejarah pada tahun 1955.Persiapan perhelatan seni budaya itu memang nampak kurang maksimal dengan berbagai kendala teknis dan kurang signifikannya pengamanan dari aparat kepolisian. Perhelatan Asia Africa Art & Culture Festival dinilai kurang publisitas, karena tidak semua masyarakat kota Bandung mengetahui perhelatan tersebut. Hal ini terlihat dari kurang antusiasnya masyarakat kota Bandung terhadap peristiwa budaya Asia Afrika tersebut. Masyarakat yang datang ke Gedung Merdeka, Jalan Asia-Afrika, Bandung, hanya datang karena rasa ingin tahu karena kemacetan di jalan-jalan protokol Rabu (23/4) pagi itu. Antusias para pelajar dalam pawai pelajar di hadapan para delegasi Asia Afrika terlihat biasa saja.Mereka datang atas intruksi kepala sekolah untuk hadir dalam perhelatan budaya Asia Afrika tersebut, juga karena panitia pelaksana kegiatan itu terobsesi untuk mendapatkan award dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan harapan jumlah pelajar yang terlibat dalam parade mencapai lebih dari 5000 siswa. Tapi, hal itu gagal dilakukan karena jumlah yang dimaksud tidak tercapai. Pada Closing Ceremony Asia Africa Art & Culture Festival yang digelar di tempat dilaksanakannya Konferensi Asia Africa (1955) lebih kurang bagus dalam sajian kemasan acaranya. Lagi-lagi panitia pelaksana berapologi bahwa kegiatan semacam ini hanyalah embrio dari kegiatan tahunan. Peringatan KAA akan dikemas dengan perhelatan seni budaya, melalui gelaran pertunjukan kesenian dan budaya tradisi dari masing-masing bangsa Asia dan Afrika.Perwakilan seni budaya tradisi dari negeri Myanmar hanya ditampilkan sebuah rekaman dokumentasi tarian tradisi. Itu pun tidak dilengkapi nama atau jenis tariannya. Pasalnya, Staf Departemen Luar Negeri yang menangani kegiatan ini hanya menerima kepingan Compact Disc dari Konsulat/Kedutaan Myanmar.Kesenian dari negeri Jepang, Korea Selatan, China ditampilan oleh mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang mempelajari kesenian tradisi bangsa-bangsa tersebut. Sehingga penonton dan undangan yang menyaksikan kesenian tersebut terheran-heran karena orang yang membawakan pertunjukan dan bangsa-bangsa itu orang Indonesia sendiri.Dari tujuh negara yang terlibat dalam pergelaran di acara Closing Ceremony Asia Africa Art & Culture Festival pada Kamis (24/4) malam, hanya Mesir dan India yang menyajikan seni tradisinya dengan serius, artinya bukan orang Indonesia yang menjadi seniman Jepang, Korea Selatan atau China. Mesir menyajikan seni tradisi yang sudah menjadi hiburan masyarakat Mesir saat ini, yaitu nyanyian yang diiring alat perkusi serta tarian Rumi. Kesenian tersebut disajikan oleh kelompok seniman yang bernama El nil Muick Tro'ip.Kelompok seniman itu terdiri dari 8 orang musisi dan penyayi serta satu penari Rumi. Mereka adalah Adel Sman, Rowd Shisna, Goda Hikal, Salama, Mohammed Elgamel, Robap Sadk, Mohme Ixlose, dan Anter Engwi. Kelompok ini sering tampil di acara resmi kenegaraan Mesir dan seniman keliling yang biasa dibayar untuk menghibur dalam suatu pesta pernikahan. Penampilan El nil Muick Tro'ip di Gedung Merdeka, Kamis (24/4) malam, menjadi sorotan para tamu dan undangan. Selain karena musik, nyanyian dan tarian Rumi yang atraktif disajikan dengan apik, busana mereka yang khas budaya Timur Tengah mengingatkan penonton pada suasana bulan suci Ramadhan dan film Ayat-Ayat Cinta. Suasana pentas pun berganti dengan nuansa kultur India setelah penayangan profil wisata negeri Filipina. Tapi bukan film India dalam bentuk pertunjukan pentas, karena tidak ada tarian dan nyanyian di sana. Ketika genjring berbunyi saat sang penari terbaik dari India, Pooja Bhatnagat, memasuki area pentas dengan pose tarian khas bertemakan Buddha yang berjudul Khatak karya penari sekaligus koreografernya, yaitu Pooja Bhatnagat.Usai Pooja Bhatnagat menari solo ia kemudian menari lagi dalam tarian Bharathnalyan karya Janakhi Shrikanth dengan ditemani para penari lain, antara lain Rupa Manoj, Shilpi Triphathi, Srishti Tripahthi, Paringdi Pardeshi, Aloy Roy, dan Tera Roy. Mereka adalah para penari yang dibina oleh Mr. Singh, Direktur Jawaharlal Nehru Indian Culture Center, Pusat Kebudayaan yang berada di bawah kewenangan Kedutaan Besar India di Jakarta.Mr. Singh dalam pengantar pertunjukannya mengatakan bahwa kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk menguatkan hubungan kultur melalui pertukaran apresiasi seni budaya antara Indonesia dan India.“Indonesia dan India bisa berbagi kekayaan seni budaya masing-masing negara sebagaimana spirit Konferensi Asia Afrika yang dirintis oleh Mr. Jawaharlal Nehru,” kata Mr. Singh di Gedung Merdeka, Bandung, Kamis (24/4) malam.Closing Ceremony Asia Africa Art & Culture Festival pada Kamis (24/4) malam itu ditutup dengan pertunjukan kolaboratif yang dipentaskan oleh seniman Jawa Barat bersama mahasiswa dan mahasiswi yang mewakili bangsa-bangsa anggota Asia Afrika.Meski perhelatan seni budaya se-Asia Afrika itu berjalan lancar. Namun panitia penyelanggara yang berasal dari SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) Jawa Barat dan Departemen Luar Negeri RI, menyesalkan persiapan event yang tidak terkoordinasi dengan baik jauh-jauh hari. “Event ini memang kurang dipersiapkan dengan matang. Saya saja terlibat pada dekat waktu pelaksanaan. Kepastian anggaran kegiatan ini juga menjadi salah satu faktor kesuksesan. Tapi hal ini wajar karena baru kali ini peringatan KAA dilaksanakan dengan format seperti ini,” jelas Boy Worang, salah satu panitia Asia Africa Art & Culture Festival 2008, di Gedung Merdeka, Bandung, Kamis (24/4) malam kepada awak KOKTAIL Bandung.Banyak hal yang semestinya tidak terjadi dalam perhelatan besar itu mengganjal kesuksesan perhelatan tersebut. Hingga terkesan bahwa perhelatan besar sekelas Asia Afrika tidak jauh berbeda dengan pesta perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Rukun Warga atau Kecamatan di Jawa Barat.Buku acara Asia Africa Art & Culture Festival yang lengkap dan komprehensif pun tidak ada. Keterangan lengkap mengenai seni budaya yang ditampilkan mewakili bangsa-bangsa yang terlibat dalam perhelatan nyaris tidak tersedia, sehingga wartawan yang meliput harus mondar-mandir meminta keterangan penampil dari peserta festival karena keterangan itu memang tidak disiapkan sebelumnya. Perhelatan Asia Africa Art & Culture Festival yang dinilai bertaraf internasional, meski pada nyatanya penggarapannya masih lokal itu, menghabiskan anggaran APBD Jawa Barat sebesar 1,1 miliar rupiah. Sebuah pesta budaya yang cukup besar menghabiskan anggaran Pemda provinsi Jabar di akhir masa kekuasaan Danny Setiawan dan Nu’man Abdul Hakim.Akan tetapi hingga bulan Mei 2008 Disbudpar Prov Jabar belum membayarkan hutang dana kepada panitia kegiatan tersebut di atas karena mereka menolak potongan pajak 15% di luar perjanjian awal kesepakatan pelaksanaan kegiatan tersebut. (Argus Firmansah/KOKTAIL/Bandung). Posted by Hoofdredacteur at 03:032. Selasa, 19 April 2005 WACANA Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika Oleh: Chusnan Maghribi SETENGAH abad lampau, tatkala kemajuan teknologi informasi belum sehebat dan sepesat sekarang, para founding fathers Republik ini sudah mampu merangkul 29 negara di Benua Asia dan Afrika untuk menyatu dalam sebuah perhelatan akbar berskala internasional bernama Konferensi Asia-Afrika (KAA). Perhelatan itu digelar di Gedung Merdeka, Bandung, 18-24 April 1955. KAA 1955 melahirkan Ten Principles of Bandung (Dasa Sila Bandung). Isinya antara lain menghormati persamaan hak dan derajat antarbangsa, nonintervensi, penyelesaian sengketa secara damai, menjunjung tinggi keadilan dan kewajiban internasional, serta meningkatkan kepentingan dan kerja sama. Komunike bersama tentang Dasa Sila Bandung, embrio Non-Alignment Movement (Gerakan Non-Blok) tahun 1961, merupakan sikap politik negara-negara dua benua ketika merespons situasi dunia yang diliputi penjajahan, penindasan dan peperangan. Kesepakatan-kesepakatan dalam komunike tersebut menempatkan negara-negara Asia-Afrika dalam spektrum demokrasi yang menjunjung tinggi kemerdekaan, perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Hasilnya, satu demi satu negara Asia-Afrika memperjuangkan dan memperoleh kemerdekaannya. Nilai-nilai kemanusiaan universal tadi masih sangat relevan dalam konteks kekinian yang mencerminkan antipenindasan, semangat perdamaian, saling menghormati dan pengakuan atas kemerdekaan dan kedaulatan bangsa/negara. Di tengah situasi dunia yang tidak adil dengan dominasi negara-negara maju dewasa ini menjadikan nilai-nilai yang tertuang dalam Dasa Sila Bandung pantas ditegakkan/dihidupkan kembali. Dan, seiring perubahan zaman, kesepuluh prinsip itu harus "diremajakan" melalui kerja sama sosial, ekonomi, budaya, politik dan keamanan antarnegara Asia-Afrika. Dalam rangka itulah, Indonesia dan Afrika Selatan memrakarsai penyelenggaraan KAA di Jakarta dan Bandung, kali ini. Dalam KAA lima hari itu, negara-negara peserta akan saling bertukar pengalaman dalam menangani berbagai isu sosial ekonomi, budaya, politik dan keamanan. Di samping itu, KAA 2005 membahas peluang-peluang dan kemungkinan kerja sama dalam penanganan bencana. Terjadinya gempa bumi dan tsunami yang dahsyat di Aceh dan negara-negara Asia-Afrika di pantai Samudera Hindia, mendorong perlunya dilakukan kerja sama dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana serupa di masa depan. Sudah Lama Sebenarnya, secara politis, kerja sama Asia-Afrika sudah berlangsung sejak lama, ditandai perjuangan bersama melawan kolonialisme-imperialisme, hal itu termanifestasikan dalam KAA 1955. Namun, interaksi dua kawasan tersebut sejauh ini masih sangat minimal dan terbatas. Karena itu, upaya-upaya untuk terus meningkatkan derajat dan intensitas interaksi antardua kawasan itu merupakan hal sangat penting untuk diperhatikan bersama. Nilai-nilai yang terkandung dalam Dasa Sila Bandung, seperti perdamaian, kerja sama dan persahabatan, serta penghormatan terhadap integritas teritorial dan pengakuan terhadap kesamaan ras, tetap mengandung makna sangat penting dan kontekstual dalam interaksi regional dan global dewasa ini. Kerja sama yang sudah terjalin antara Asia dan Afrika dalam memerangi kolonialisme beberapa dekade lalu masih tetap diperlukan dan bahkan ditingkatkan guna memerangi "musuh" masa kini, berupa kemiskinan, beragam penyakit, konflik komunal ataupun perang bersenjata dengan segala penyebabnya, kolonialisme di bidang sosial ekonomi, budaya dan politik. Mengenai kemiskinan, Benua Asia dan Afrika tak asing lagi dikenal sebagai kawasan paling banyak jumlah penduduk miskinnya. Asia-Afrika dengan 107 negara (lebih dari separo anggota PBB) kini populasinya mencapai 4,6 miliar jiwa atau 73 persen dari total penduduk dunia. Dari jumlah itu, satu miliar di antaranya hidup di bawah garis kemiskinan. Produk domestik bruto (PDB) Asia-Afrika mencapai 9,3 triliun dolar AS, kurang lebih sepertiga dari total PDB dunia. PDB Asia-Afrika sama dengan PDB Amerika Serikat yang hanya berpenduduk 270 juta jiwa. Menurut Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Deplu RI, Prof Dr Herijanto Soeprapto, jika Asia-Afrika mampu mengatasi problem kemiskinan penduduknya, berarti hampir separuh persoalan dunia telah terselesaikan/teratasi. Jadi, memang merupakan kebutuhan sangat penting dan mendesak bagi Asia-Afrika untuk menegakkan atau menghidupkan, bahkan meremajakan kembali Semangat Bandung 1955, sesuai kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik dan keamanan yang dihadapi kedua kawasan dewasa ini. Dan, peremajaan kembali Spirit Bandung itu agaknya akan terlihat dalam Deklarasi tentang Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika (The New Asian-African Strategic Partnership / NAASP) yang akan diluncurkan di hari terakhir KAA 2005. Konkret dan Komplementer Pada intinya, NAASP berisi uraian mengenai prinsip-prinsip dasar kemitraan strategis baru Asia-Afrika, tujuan dan sasarannya, substansi kerja sama yang mencakup aspek sosial ekonomi, kultural, politik, keamanan dan mekanisme kerja sama selanjutnya. NAASP akan difokuskan pada bentuk kerja sama konkret dan komplementer demi tercapainya perdamaian, kemakmuran dan stabilitas di kedua benua. Adapun program kerja sama konkret dalam NAASP meliputi antara lain upaya meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dan kapasitasnya, memperkuat sistem perdagangan multilateral, meningkatkan kerja sama perdagangan, industri, investasi dan keuangan. Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika itu terdiri dari tiga pilar, yaitu antarpemerintah, antarorganisasi subregional, dan antarkelompok masyarakat (bisnis, akademisi dan masyarakat madani atau civil society). Untuk itu, perlu diupayakan penguatan kerja sama antarorganisasi subregional, serupa ASEAN ataupun OAU (Organisasi Afrika Utara) dan regional, semisal Uni Afrika dalam rangka implementasi proyek-proyek kerja sama konkret dan komplementer. Kemudian, untuk "mengawal" pelaksanaan program-program NAASP, pada pertemuan AASROC (Asian-African Sub Regional Organizations Conference) I di Bandung bulan Juli 2003 telah ditetapkan mekanisme pertemuan antara kedua benua secara teratur. Yaitu Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT AA) setiap empat tahun sekali, pertemuan tingkat menteri tiap dua tahun sekali, dan pertemuan tingkat menteri sektoral yang bisa dilaksanakan sesuai kebutuhan. Dengan begitu, event KAA 2005 diharapkan akan benar-benar lebih banyak sisi upaya nyata mewujudkan kerja sama konkret dan komplementer di banyak bidang dari pada sisi romantika sejarahnya. (29)-Chusnan Maghribi, peneliti masalah-masalah global di Center of International Studies, Yogyakarta. Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas Budaya | Wacana Cybernews | Berita Kemarin Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA 100 Tahun Kebangkitan Nasional Musik Pun Menggugah Kebangsaan... | Senin, 15 September 2008 | 01:31 WIB Oleh Ninok Leksono "Di samping segala-galanya (urusan lain-lain—pen), perjuangan untuk Kemerdekaanlah yang harus menjadi pokok pekerjaan semua orang Indonesia di zaman-zaman kesukaran seperti sekarang ini." (Ismail Marzuki, dalam ”Minggu Merdeka”, 1/6/1958) Ucapan itu sendiri keluar dari Bang Mail—panggilan akrab Ismail Marzuki—semasa pemerintahan bala tentara Dai Nippon berada dalam kemegahannya; semasa semua segi kehidupan kita—politik, ekonomi, kebudayaan—harus ditujukan dan dilakukan untuk kepentingan Jepang, dan ”menang perang” (Asia Timur Raya). Berarti Bang Mail menyadari bahwa tujuan utama bermusiknya, semangat yang menggebu untuk mencipta lagu, sebetulnya untuk mendukung upaya mencapai kemerdekaan. Jadi, tidak mengherankan kalau banyak dari 202 lagu ciptaannya bercorak romantika perjuangan. Bahkan, ketika kemerdekaan yang telah dikumandangkan 17 Agustus 1945 itu terancam oleh kekuatan kolonial yang ingin kembali berkuasa, Ismail terus menggugah semangat bangsanya melalui lagu-lagu perjuangan, seperti Sepasang Mata Bola (1946) dan Melati di Tapal Batas (1947). Penggolong-golongan karya Ismail dalam tiga periode perjuangan, yakni Hindia-Belanda (1900-1942), Pendudukan Jepang (1942-1945), dan Revolusi (1945-1950), menyiratkan kentalnya konteks karya musik komponis kita ini dengan perjuangan. Dalam hal Ismail, karya pertamanya pun—O Sarinah (1931)—menggunakan judul yang maknanya lebih dari sekadar nama seorang wanita. Sarinah juga lambang bangsa yang tertindas penjajah.Ismail tentu tidak sendirian dalam musik bergenre perjuangan ini. Lainnya, antara lain R Maladi, yang dikenal sebagai pencipta lagu Rangkaian Melati, dan Di Bawah Sinar Bulan Purnama. Lagu-lagu tersebut ia ciptakan semasa penjajahan Jepang, 1942-1945. Rangkaian Melati disebut diilhami kisah nyata seorang putri cantik Solo yang punya kekasih tampan. SN Ratmana di harian ini (12/2/1978) menulis, sang kekasih ini ditangkap perwira Dai Nippon, lalu dikirim ke Burma (Myanmar) untuk dijadikan romusa atau heiho. Syair lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama sendiri juga simbolik, seperti ”Si Miskin pun yang hidup sengsara, semalam itu bersuka”. Maladi mengakui, rakyat hidup miskin semasa penjajahan. Namun, sesekali mereka bisa merasa senang karena kemerdekaan telah membayang, seperti dilukiskan dalam simbol bulan purnama.Pada lagu Solo di Waktu Malam, Maladi menulis ”Daun berbisik di tepi sungai”, yang menyimbolkan para pemuda pejuang yang bertukar pikiran di kawasan Jurug dan Tirtonadi. Namun, perbincangan para pemuda itu dilakukan dengan berbisik, sementara pada Ombak Samudra terdapat lirik ”Kapan kau pulang ombak samudra. Kembali ke pantai bahagia”. Ini juga ekspresi kerinduan pada sesuatu yang membahagiakan, yang tiada lain adalah kemerdekaan. Selain simbolisme dan cita-cita, ciptaan Maladi juga mencoba merekam sejarah. Di Sela-sela Rumput Hijau merupakan rekaman pemberontakan Peta di Blitar, Februari 1945, di bawah pimpinan Supriadi. Sementara Ombak Samudra mencatat peristiwa bertolaknya Soekarno dan Hatta ke Saigon untuk menemui Jenderal Terauchi akhir Juli 1945 dan Nyiur Hijau melukiskan fajar Indonesia Merdeka, yaitu ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dibentuk awal Agustus 1945. Memuncaki penggunaan musik untuk menggelorakan semangat perjuangan menuju kemerdekaan tentu saja kiprah WR Supratman, yang sudah menggubah Indonesia Raya tahun 1928. Supratman menuliskan ”lagu kebangsaan” di bawah judul Indonesia Raya, hal yang kemudian dilarang Pemerintah Hindia Belanda. Seperti ditulis Bondan Winarno dalam buku tentang Indonesia Raya (2003), Gubernur Jenderal Jonkheer de Graeff mungkin saat itu beralasan, ”Untuk apa ada lagu kebangsaan bagi bangsa yang toh tidak ada?”Indonesia Raya yang susunan liriknya merupakan soneta (sajak 14 baris)—mengingatkan orang kepada Empu Walmiki ketika menulis epik Ramayana—segera setelah dikumandangkan menjadi seloka sakti yang mempersatukan bangsa. Belanda yang lebih suka menyebut bangsa Nusantara sebagai bangsa Jawa, Sunda, atau Sumatera, tahu potensi lagu ini untuk mempersatukan dan melarangnya. Tetapi, semakin dilarang, semakin kuatlah lagu ini menjadi penyemangat dan perekat bangsa. Nasionalisme melalui musik Dalam perjalanannya, musik Indonesia melahirkan satu genre yang dikenal sebagai seriosa. Sebagian mengangkat puisi penyair termasyhur, seperti Chairil Anwar, sebagai lirik (Cintaku Jauh di Pulau/FX Soetopo). Di Barat, genre ini dikenal sebagai art song atau lied (Jerman). Dalam genre ini banyak pula terkandung elemen nasional, juga perjuangan. Tetapi, setelah sempat mengalami kejayaan di dekade 1960-an dan 1970-an, seriosa Indonesia meredup.Kalau semangat perjuangan melalui musik seriosa cukup ditopang vokalis dan pianis, semangat sama bisa pula diangkat ke dalam musik orkestra. Meski di Barat dikenal musik nasional yang hebat seperti Finlandia karya Sibelius dan Moldau (nama sungai besar yang melewati Praha) karya Smetana, pemusik Indonesia yang punya tekad dan kapasitas untuk mentransformasikan semangat tersebut ke dalam musik orkestra adalah mendiang Yazeed Djamin. Setelah menghasilkan musik orkestra untuk lagu seperti Betawi (Ondel-ondel), Yazeed—atas pesanan mantan Presiden BJ Habibie—menggubah Variasi Sepasang Mata Bola pada tahun 1999.Terlepas dari warna diatonik pada karya ini, Variasi Sepasang Mata Bola merupakan upaya untuk menghidup-hidupkan semangat kemerdekaan melalui musik. Kemerdekaan, sebagaimana musik nasional yang pada masa lalu ikut membantu kelahirannya, kini sama-sama berhadapan dengan arus global yang kuat. Namun, dalam tekanan itu pula, melalui musik nasional selalu menyusup kenangan kebangkitan bangsa.Dalam kaitan ini pula kita terus merindukan pemusik ulung Indonesia, yang menjawab tantangan untuk melahirkan musik nasional sehingga kita bisa punya sosok, seperti Vaugh Williams yang unmistakably Inggris dan Aaron Copland yang tak salah lagi Amerika. Komposer besar Italia, G Verdi, meyakini, ”Tiada hal yang bisa membungkam suara bangsa”. Kini pun, ketika masih banyak suara hati bangsa yang harus dikumandangkan ketika lidah masih belum sepenuhnya terampil mengatakannya, musik adalah kanalnya, sebagaimana telah diperlihatkan Ismail Marzuki, Maladi, dan WR Supratman pada masa prakemerdekaan. Peninggalan Portugis di Batavia | Pingkan | Rabu, 2 Mei 2012 | 11:49 WIB Warta Kota/ yp yudha Batavia Pertengahan Abad 16 SEJAK zaman lampau, Nusantara dipandang merupakan wilayah yang kaya. Karena itu berbagai bangsa asing datang ke sini untuk jangka waktu lama. Hubungan yang pertama kali dilakukan antarnegara adalah hubungan dagang. Lama-kelamaan hubungan itu berkembang menjadi hubungan sosial (misalnya perkawinan) dan hubungan politik (misalnya invasi atau penjajahan).Negara kita banyak didatangi bangsa asing, terutama dari Eropa, karena rempah-rempah kita dinilai berkualitas tinggi. Rempah-rempah sangat dibutuhkan oleh negeri beriklim dingin, sehingga berbagai bangsa Eropa itu berupaya mencari sendiri ke sini. Selain Belanda yang selama 350 tahun menjajah negara kita, jejak Portugis pun banyak dijumpai dalam berbagai ujud. Bangsa Portugis memang dikenal sebagai bangsa pelayar dan petualang yang tangguh. Masa ekspansi kolonial Portugis dimulai pada 1385 ketika John I mendirikan Dinasti Aviz. Pada abad XVI daerah jajahan Portugis meliputi Amerika Selatan, Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Diperkirakan, timbulnya kolonialisme Portugis dimulai oleh "mimpi" seorang Pangeran bernama Dom Henrique, untuk mencari "dunia baru". Dia meninggalkan istana dan mendirikan sekolah nautika di Portugis Selatan. Di sana dia mengundang para ahli geografi dan kartografi terbaik Eropa. Dengan uangnya sendiri lalu dia membentuk sebuah armada kapal yang pergi berlayar mencari "dunia baru" tadi. Pada awalnya mereka berhasil melewati Tanjung Harapan di Afrika. Maka rute ke wilayah Timur pun terbuka dan dalam sekejap tujuan-tujuan komersial memperkuat jiwa petualangan bangsa Portugis itu. Ketika mereka tiba di Goa, India, mereka mulai menyadari betapa pentingnya perdagangan rempah-rempah. Setelah berhasil merebut Malaka di Malaysia pada 1511, maka Albuquerque mengirim sebuah ekspedisi untuk mencari Maluku. Dari sanalah Portugis mulai melakukan ekspansi ke seluruh wilayah Indonesia (Pengaruh Portugis di Indonesia, 2000). Dari rempah-rempah lalu berkembang menjadi hubungan militer, kebudayaan, etnis, komersial, dan agama. Masa kolonialisasi Portugis di Indonesia antara lain dapat ditelusuri lewat tulisan seorang pengelana bernama Tome Pires. Catatan Pires banyak dipakai untuk merekonstruksi sejarah Indonesia pada abad XV. Tulisannya, Suma Oriental (Perjalanan ke Timur), dibukukan di London pada 1944.Catatan Pires yang dinilai penting antara lain tentang adanya Kerajaan Sunda di Jawa Barat (regno de cumda). Begitu pula tentang asal mula kota Jakarta, yang sampai kini masih menjadi polemik. Ketika itu, menurut Pires, pada 1522 di Sunda Kalapa, Portugis menandatangani perjanjian dengan pangeran setempat. Hasil kerja sama itu diujudkan dalam sebuah padrao. Padrao adalah sebuah tiang batu setinggi kira-kira dua meter, dengan suatu inskripsi yang menyatakan bahwa orang Portugis telah lewat di situ.



TUGAS SEJARAH AFRIKA
KLIPING KEBUDAYAAN DAN POLITIK DI KAWASAN AFRIKA
(Disusun guna untuk memenuhi tugas Sejarah Afrika)
(Dosen Pengempu mata kuliah Drs.Sugianto.M.Hum)

Di susun oleh:
1.FANDU DYANGGA PREDETA  100210302003
2.EKA AULIA PITRI YANA          100210302005
3.NUZUL IRSAD PURNOMO        100210302019
4.AGENG PERISTIWA SAKTI       100210302046
5.ERLINDA RIZKY APRILIA        100210302054

PENDIDIKAN SEJARAH
ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2012


DAFTAR ISI

COVER............................................................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................................ii
SUARA MERDEKA(perekat komunitas jawa tengah)..................................................
KOMPAS.COM(wisata budaya di asia-afrika)...............................................................
KOMPAS.COM(MUSIK PENGGUGAH KEBUDAYAAN AFRIKA)............................
KOMPAS.COM(peninggalan portugis di batavia)..........................................................
KOMPAS.COM[mayapada prana]Piramida Mesir : Mahakarya Manusia Raksasa....
KOMPAS.COM(proses pembuatan piramida mesir).....................................................
SUARA MERDEKA(budaya mesiryang adi luhung)....................................................
KOMPAS.COM(siapa yang membuat piramida)...........................................................














KOMPAS.COM
1.Wisata Budaya di Asia Africa Art & Culture Festival
 Peristiwa bersejarah Konferensi Asia Afrika (1955) direvivitalisasi melalui sudut pandang hubungan seni budaya antarbangsa Asia Afrika. Gedung Merdeka yang terletak di kota Bandung, menjadi saksi bisu di mana para pemimpin bangsa-bangsa se-Asia Afrika (1955) menyampaikan aspirasinya untuk bersatu meraih kemerdekaan bangsanya dari kolonialisasi bangsa Eropa, serta berupaya membangun stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara di kawasan Asia dan Afrika yang bebas dan merdeka.
Bandung pun menjadi ibukota Asia Afrika pada tahun 1955 yang kini diakui oleh bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Dalam upaya membuka ingatan kolektif dunia, khususnya bangsa Asia dan Afrika, pemerintah Indonesia dan anggota Konferensi Asia Africa, menggelar acara peringatan tiap tahunnya di Gedung Merdeka, Bandung.Pada tahun ini ingatan kolektif masyarakat Asia Afrika menggelar perhelatan Asia Africa Art & Culture di Gedung Merdeka, Bandung, pada tanggal 22-24 April 2008. Pada Opening Ceremony dimulai dengan pergelaran seni budaya Indonesia oleh para penari dan koreografer dari Jawa Barat.
Tidak hanya itu, para delegasi yang akan mementaskan keseniannya juga ikut melakukan historical walk dari Hotel Savoy Homann hingga Gedung Merdeka. Kemudian diikuti oleh ribuan siswa-siswi kelas satu dan dua dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, serta parade kesenian tradisi Jawa Barat yang organisasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Barat.Perhelatan itu menguatkan penanda persaudaraan bangsa-bangsa Asia Afrika pada tahun ini melalui pertemuan seni budaya antar bangsa.
“Bandung memiliki daya tarik objek wisata dunia. Dan kegiatan ini majadi salah satu upaya untuk mengimplemetasikan kesepakatan Konferensi Asia Afrika (KAA) dengan melakukan kerjasama di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya antar bangsa-bangsa Asai Afrika,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, H.I. Budhiyana, di Gedung Merdeka, Bandung, Rabu (23/4) pagi.
Kontingen negara Asia Afrika yang turut serta dalam perhelatan Asia Africa Art & Culture Festival antara lain dihadiri oleh senimana dari Mesir dan India, sementara perwakilan dari Korea Selatan, Jepang, China dan Indonesia dihadiri oleh seniman muda dan mahasiswa/i Indonesia yang secara khusus mempelajari kebudayaan bangsa-bangsa tersebut.
Perhelatan yang digelar pada Rabu (23/4) pagi dihadiri oleh ribuan masyarakat kota Bandung dan beberapa tamu negara dari Asia Afrika yang turut menyaksikan parade kesenian Jawa Barat. Sementara seni budaya Indonesia yang dikemas dalam tarian massal disajikan oleh puluhan penari dari Jawa Barat dengan menampilkan koreografi yang mengolaborasikan tarian khas Indonesia yang ada dari Sabang sampai Merauke. Tarian itu juga dikemas dengan busana tradisi elaboratif yang merupakan kolase warna-warni seni budaya Indonesia.Andri Hadi, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, menegaskan bahwa acara yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat beserta Pemda provinsi Jabar ini menguatkan hubungan erat bangsa-bangsa Asia Afrika yang terlibat dalam KAA pada tahun 1955 hingga sekarang.
“Forum KAA mempererat hubungan negara Asia Afrika. Solidaritas politik dan kerjasama sosial budaya pada dasarnya adalah hubungan erat antarmasyarakat Asia Afrika. People to people contact. Bandung is capital of Asia Africa,” papar Andri Hadi di Gedung Merdeka, Bandung, Rabu (23/4) pagi.Sementara Gubernur Jabar, Danny Setiawan mengatakan bahwa perhelatan Asia Africa Art & Culture Festival adalah komitmen bangsa Indonesia terhadap KAA 1955. perhelatan itu sendiri merupakan upaya Pemda Jabar dalam merevitalisasi peristiwa bersejarah pada tahun 1955.Persiapan perhelatan seni budaya itu memang nampak kurang maksimal dengan berbagai kendala teknis dan kurang signifikannya pengamanan dari aparat kepolisian. Perhelatan Asia Africa Art & Culture Festival dinilai kurang publisitas, karena tidak semua masyarakat kota Bandung mengetahui perhelatan tersebut. Hal ini terlihat dari kurang antusiasnya masyarakat kota Bandung terhadap peristiwa budaya Asia Afrika tersebut.
Masyarakat yang datang ke Gedung Merdeka, Jalan Asia-Afrika, Bandung, hanya datang karena rasa ingin tahu karena kemacetan di jalan-jalan protokol Rabu (23/4) pagi itu. Antusias para pelajar dalam pawai pelajar di hadapan para delegasi Asia Afrika terlihat biasa saja.Mereka datang atas intruksi kepala sekolah untuk hadir dalam perhelatan budaya Asia Afrika tersebut, juga karena panitia pelaksana kegiatan itu terobsesi untuk mendapatkan award dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan harapan jumlah pelajar yang terlibat dalam parade mencapai lebih dari 5000 siswa. Tapi, hal itu gagal dilakukan karena jumlah yang dimaksud tidak tercapai.
Pada Closing Ceremony Asia Africa Art & Culture Festival yang digelar di tempat dilaksanakannya Konferensi Asia Africa (1955) lebih kurang bagus dalam sajian kemasan acaranya. Lagi-lagi panitia pelaksana berapologi bahwa kegiatan semacam ini hanyalah embrio dari kegiatan tahunan. Peringatan KAA akan dikemas dengan perhelatan seni budaya, melalui gelaran pertunjukan kesenian dan budaya tradisi dari masing-masing bangsa Asia dan Afrika.Perwakilan seni budaya tradisi dari negeri Myanmar hanya ditampilkan sebuah rekaman dokumentasi tarian tradisi. Itu pun tidak dilengkapi nama atau jenis tariannya. Pasalnya, Staf Departemen Luar Negeri yang menangani kegiatan ini hanya menerima kepingan Compact Disc dari Konsulat/Kedutaan Myanmar.Kesenian dari negeri Jepang, Korea Selatan, China ditampilan oleh mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang mempelajari kesenian tradisi bangsa-bangsa tersebut. Sehingga penonton dan undangan yang menyaksikan kesenian tersebut terheran-heran karena orang yang membawakan pertunjukan dan bangsa-bangsa itu orang Indonesia sendiri.Dari tujuh negara yang terlibat dalam pergelaran di acara Closing Ceremony Asia Africa Art & Culture Festival pada Kamis (24/4) malam, hanya Mesir dan India yang menyajikan seni tradisinya dengan serius, artinya bukan orang Indonesia yang menjadi seniman Jepang, Korea Selatan atau China.
Mesir menyajikan seni tradisi yang sudah menjadi hiburan masyarakat Mesir saat ini, yaitu nyanyian yang diiring alat perkusi serta tarian Rumi. Kesenian tersebut disajikan oleh kelompok seniman yang bernama El nil Muick Tro'ip.Kelompok seniman itu terdiri dari 8 orang musisi dan penyayi serta satu penari Rumi. Mereka adalah Adel Sman, Rowd Shisna, Goda Hikal, Salama, Mohammed Elgamel, Robap Sadk, Mohme Ixlose, dan Anter Engwi.
Kelompok ini sering tampil di acara resmi kenegaraan Mesir dan seniman keliling yang biasa dibayar untuk menghibur dalam suatu pesta pernikahan. Penampilan El nil Muick Tro'ip di Gedung Merdeka, Kamis (24/4) malam, menjadi sorotan para tamu dan undangan. Selain karena musik, nyanyian dan tarian Rumi yang atraktif disajikan dengan apik, busana mereka yang khas budaya Timur Tengah mengingatkan penonton pada suasana bulan suci Ramadhan dan film Ayat-Ayat Cinta.
Suasana pentas pun berganti dengan nuansa kultur India setelah penayangan profil wisata negeri Filipina. Tapi bukan film India dalam bentuk pertunjukan pentas, karena tidak ada tarian dan nyanyian di sana.
Ketika genjring berbunyi saat sang penari terbaik dari India, Pooja Bhatnagat, memasuki area pentas dengan pose tarian khas bertemakan Buddha yang berjudul Khatak karya penari sekaligus koreografernya, yaitu Pooja Bhatnagat.Usai Pooja Bhatnagat menari solo ia kemudian menari lagi dalam tarian Bharathnalyan karya Janakhi Shrikanth dengan ditemani para penari lain, antara lain Rupa Manoj, Shilpi Triphathi, Srishti Tripahthi, Paringdi Pardeshi, Aloy Roy, dan Tera Roy. Mereka adalah para penari yang dibina oleh Mr. Singh, Direktur Jawaharlal Nehru Indian Culture Center, Pusat Kebudayaan yang berada di bawah kewenangan Kedutaan Besar India di Jakarta.Mr. Singh dalam pengantar pertunjukannya mengatakan bahwa kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk menguatkan hubungan kultur melalui pertukaran apresiasi seni budaya antara Indonesia dan India.“Indonesia dan India bisa berbagi kekayaan seni budaya masing-masing negara sebagaimana spirit Konferensi Asia Afrika yang dirintis oleh Mr. Jawaharlal Nehru,” kata Mr. Singh di Gedung Merdeka, Bandung, Kamis (24/4) malam.Closing Ceremony Asia Africa Art & Culture Festival pada Kamis (24/4) malam itu ditutup dengan pertunjukan kolaboratif yang dipentaskan oleh seniman Jawa Barat bersama mahasiswa dan mahasiswi yang mewakili bangsa-bangsa anggota Asia Afrika.Meski perhelatan seni budaya se-Asia Afrika itu berjalan lancar. Namun panitia penyelanggara yang berasal dari SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) Jawa Barat dan Departemen Luar Negeri RI, menyesalkan persiapan event yang tidak terkoordinasi dengan baik jauh-jauh hari.
“Event ini memang kurang dipersiapkan dengan matang. Saya saja terlibat pada dekat waktu pelaksanaan. Kepastian anggaran kegiatan ini juga menjadi salah satu faktor kesuksesan. Tapi hal ini wajar karena baru kali ini peringatan KAA dilaksanakan dengan format seperti ini,” jelas Boy Worang, salah satu panitia Asia Africa Art & Culture Festival 2008, di Gedung Merdeka, Bandung, Kamis (24/4) malam kepada awak KOKTAIL Bandung.Banyak hal yang semestinya tidak terjadi dalam perhelatan besar itu mengganjal kesuksesan perhelatan tersebut. Hingga terkesan bahwa perhelatan besar sekelas Asia Afrika tidak jauh berbeda dengan pesta perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Rukun Warga atau Kecamatan di Jawa Barat.Buku acara Asia Africa Art & Culture Festival yang lengkap dan komprehensif pun tidak ada. Keterangan lengkap mengenai seni budaya yang ditampilkan mewakili bangsa-bangsa yang terlibat dalam perhelatan nyaris tidak tersedia, sehingga wartawan yang meliput harus mondar-mandir meminta keterangan penampil dari peserta festival karena keterangan itu memang tidak disiapkan sebelumnya.
Perhelatan Asia Africa Art & Culture Festival yang dinilai bertaraf internasional, meski pada nyatanya penggarapannya masih lokal itu, menghabiskan anggaran APBD Jawa Barat sebesar 1,1 miliar rupiah. Sebuah pesta budaya yang cukup besar menghabiskan anggaran Pemda provinsi Jabar di akhir masa kekuasaan Danny Setiawan dan Nu’man Abdul Hakim.Akan tetapi hingga bulan Mei 2008 Disbudpar Prov Jabar belum membayarkan hutang dana kepada panitia kegiatan tersebut di atas karena mereka menolak potongan pajak 15% di luar perjanjian awal kesepakatan pelaksanaan kegiatan tersebut.
(Argus Firmansah/KOKTAIL/Bandung).  Posted by Hoofdredacteur  at 03:032.















Selasa, 19 April 2005  WACANA
Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika
Oleh: Chusnan Maghribi
SETENGAH abad lampau, tatkala kemajuan teknologi informasi belum sehebat dan sepesat sekarang, para founding fathers Republik ini sudah mampu merangkul 29 negara di Benua Asia dan Afrika untuk menyatu dalam sebuah perhelatan akbar berskala internasional bernama Konferensi Asia-Afrika (KAA). Perhelatan itu digelar di Gedung Merdeka, Bandung, 18-24 April 1955.
KAA 1955 melahirkan Ten Principles of Bandung (Dasa Sila Bandung). Isinya antara lain menghormati persamaan hak dan derajat antarbangsa, nonintervensi, penyelesaian sengketa secara damai, menjunjung tinggi keadilan dan kewajiban internasional, serta meningkatkan kepentingan dan kerja sama.
 Komunike bersama tentang Dasa Sila Bandung, embrio Non-Alignment Movement (Gerakan Non-Blok) tahun 1961, merupakan sikap politik negara-negara dua benua ketika merespons situasi dunia yang diliputi penjajahan, penindasan dan peperangan. Kesepakatan-kesepakatan dalam komunike tersebut menempatkan negara-negara Asia-Afrika dalam spektrum demokrasi yang menjunjung tinggi kemerdekaan, perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Hasilnya, satu demi satu negara Asia-Afrika memperjuangkan dan memperoleh kemerdekaannya.
 Nilai-nilai kemanusiaan universal tadi masih sangat relevan dalam konteks kekinian yang mencerminkan antipenindasan, semangat perdamaian, saling menghormati dan pengakuan atas kemerdekaan dan kedaulatan bangsa/negara.
 Di tengah situasi dunia yang tidak adil dengan dominasi negara-negara maju dewasa ini menjadikan nilai-nilai yang tertuang dalam Dasa Sila Bandung pantas ditegakkan/dihidupkan kembali. Dan, seiring perubahan zaman, kesepuluh prinsip itu harus "diremajakan" melalui kerja sama sosial, ekonomi, budaya, politik dan keamanan antarnegara Asia-Afrika. Dalam rangka itulah, Indonesia dan Afrika Selatan memrakarsai penyelenggaraan KAA di Jakarta dan Bandung, kali ini.
Dalam KAA lima hari itu, negara-negara peserta akan saling bertukar pengalaman dalam menangani berbagai isu sosial ekonomi, budaya, politik dan keamanan. Di samping itu, KAA 2005 membahas peluang-peluang dan kemungkinan kerja sama dalam penanganan bencana. Terjadinya gempa bumi dan tsunami yang dahsyat di Aceh dan negara-negara Asia-Afrika di pantai Samudera Hindia, mendorong perlunya dilakukan kerja sama dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana serupa di masa depan.
Sudah Lama Sebenarnya, secara politis, kerja sama Asia-Afrika sudah berlangsung sejak lama, ditandai perjuangan bersama melawan kolonialisme-imperialisme, hal itu termanifestasikan dalam KAA 1955. Namun, interaksi dua kawasan tersebut sejauh ini masih sangat minimal dan terbatas.
 Karena itu, upaya-upaya untuk terus meningkatkan derajat dan intensitas interaksi antardua kawasan itu merupakan hal sangat penting untuk diperhatikan bersama. Nilai-nilai yang terkandung dalam Dasa Sila Bandung, seperti perdamaian, kerja sama dan persahabatan, serta penghormatan terhadap integritas teritorial dan pengakuan terhadap kesamaan ras, tetap mengandung makna sangat penting dan kontekstual dalam interaksi regional dan global dewasa ini. Kerja sama yang sudah terjalin antara Asia dan Afrika dalam memerangi kolonialisme beberapa dekade lalu masih tetap diperlukan dan bahkan ditingkatkan guna memerangi "musuh" masa kini, berupa kemiskinan, beragam penyakit, konflik komunal ataupun perang bersenjata dengan segala penyebabnya, kolonialisme di bidang sosial ekonomi, budaya dan politik. Mengenai kemiskinan, Benua Asia dan Afrika tak asing lagi dikenal sebagai kawasan paling banyak jumlah penduduk miskinnya. Asia-Afrika dengan 107 negara (lebih dari separo anggota PBB) kini populasinya mencapai 4,6 miliar jiwa atau 73 persen dari total penduduk dunia. Dari jumlah itu, satu miliar di antaranya hidup di bawah garis kemiskinan. Produk domestik bruto (PDB) Asia-Afrika mencapai 9,3 triliun dolar AS, kurang lebih sepertiga dari total PDB dunia. PDB Asia-Afrika sama dengan PDB Amerika Serikat yang hanya berpenduduk 270 juta jiwa.
Menurut Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Deplu RI, Prof Dr Herijanto Soeprapto, jika Asia-Afrika mampu mengatasi problem kemiskinan penduduknya, berarti hampir separuh persoalan dunia telah terselesaikan/teratasi.
 Jadi, memang merupakan kebutuhan sangat penting dan mendesak bagi Asia-Afrika untuk menegakkan atau menghidupkan, bahkan meremajakan kembali Semangat Bandung 1955, sesuai kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik dan keamanan yang dihadapi kedua kawasan dewasa ini. Dan, peremajaan kembali Spirit Bandung itu agaknya akan terlihat dalam Deklarasi tentang Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika (The New Asian-African Strategic Partnership / NAASP) yang akan diluncurkan di hari terakhir KAA 2005.
Konkret dan Komplementer
Pada intinya, NAASP berisi uraian mengenai prinsip-prinsip dasar kemitraan strategis baru Asia-Afrika, tujuan dan sasarannya, substansi kerja sama yang mencakup aspek sosial ekonomi, kultural, politik, keamanan dan mekanisme kerja sama selanjutnya. NAASP akan difokuskan pada bentuk kerja sama konkret dan komplementer demi tercapainya perdamaian, kemakmuran dan stabilitas di kedua benua. Adapun program kerja sama konkret dalam NAASP meliputi antara lain upaya meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dan kapasitasnya, memperkuat sistem perdagangan multilateral, meningkatkan kerja sama perdagangan, industri, investasi dan keuangan.
Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika itu terdiri dari tiga pilar, yaitu antarpemerintah, antarorganisasi subregional, dan antarkelompok masyarakat (bisnis, akademisi dan masyarakat madani atau civil society). Untuk itu, perlu diupayakan penguatan kerja sama antarorganisasi subregional, serupa ASEAN ataupun OAU (Organisasi Afrika Utara) dan regional, semisal Uni Afrika dalam rangka implementasi proyek-proyek kerja sama konkret dan komplementer. Kemudian, untuk "mengawal" pelaksanaan program-program NAASP, pada pertemuan AASROC (Asian-African Sub Regional Organizations Conference) I di Bandung bulan Juli 2003 telah ditetapkan mekanisme pertemuan antara kedua benua secara teratur. Yaitu Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT AA) setiap empat tahun sekali, pertemuan tingkat menteri tiap dua tahun sekali, dan pertemuan tingkat menteri sektoral yang bisa dilaksanakan sesuai kebutuhan.
Dengan begitu, event KAA 2005 diharapkan akan benar-benar lebih banyak sisi upaya nyata mewujudkan kerja sama konkret dan komplementer di banyak bidang dari pada sisi romantika sejarahnya. (29)-Chusnan Maghribi, peneliti masalah-masalah global di Center of International Studies, Yogyakarta.
Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
   Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA



















KOMPAS.COM
100 Tahun Kebangkitan Nasional
Musik Pun Menggugah Kebangsaan...
 | Senin, 15 September 2008 | 01:31 WIB
Oleh Ninok Leksono
"Di samping segala-galanya (urusan lain-lain—pen), perjuangan untuk Kemerdekaanlah yang harus menjadi pokok pekerjaan semua orang Indonesia di zaman-zaman kesukaran seperti sekarang ini." (Ismail Marzuki, dalam ”Minggu Merdeka”, 1/6/1958)
Ucapan itu sendiri keluar dari Bang Mail—panggilan akrab Ismail Marzuki—semasa pemerintahan bala tentara Dai Nippon berada dalam kemegahannya; semasa semua segi kehidupan kita—politik, ekonomi, kebudayaan—harus ditujukan dan dilakukan untuk kepentingan Jepang, dan ”menang perang” (Asia Timur Raya).
Berarti Bang Mail menyadari bahwa tujuan utama bermusiknya, semangat yang menggebu untuk mencipta lagu, sebetulnya untuk mendukung upaya mencapai kemerdekaan. Jadi, tidak mengherankan kalau banyak dari 202 lagu ciptaannya bercorak romantika perjuangan. Bahkan, ketika kemerdekaan yang telah dikumandangkan 17 Agustus 1945 itu terancam oleh kekuatan kolonial yang ingin kembali berkuasa, Ismail terus menggugah semangat bangsanya melalui lagu-lagu perjuangan, seperti Sepasang Mata Bola (1946) dan Melati di Tapal Batas (1947).
Penggolong-golongan karya Ismail dalam tiga periode perjuangan, yakni Hindia-Belanda (1900-1942), Pendudukan Jepang (1942-1945), dan Revolusi (1945-1950), menyiratkan kentalnya konteks karya musik komponis kita ini dengan perjuangan. Dalam hal Ismail, karya pertamanya pun—O Sarinah (1931)—menggunakan judul yang maknanya lebih dari sekadar nama seorang wanita. Sarinah juga lambang bangsa yang tertindas penjajah.Ismail tentu tidak sendirian dalam musik bergenre perjuangan ini. Lainnya, antara lain R Maladi, yang dikenal sebagai pencipta lagu Rangkaian Melati, dan Di Bawah Sinar Bulan Purnama. Lagu-lagu tersebut ia ciptakan semasa penjajahan Jepang, 1942-1945. Rangkaian Melati disebut diilhami kisah nyata seorang putri cantik Solo yang punya kekasih tampan. SN Ratmana di harian ini (12/2/1978) menulis, sang kekasih ini ditangkap perwira Dai Nippon, lalu dikirim ke Burma (Myanmar) untuk dijadikan romusa atau heiho.
Syair lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama sendiri juga simbolik, seperti ”Si Miskin pun yang hidup sengsara, semalam itu bersuka”. Maladi mengakui, rakyat hidup miskin semasa penjajahan. Namun, sesekali mereka bisa merasa senang karena kemerdekaan telah membayang, seperti dilukiskan dalam simbol bulan purnama.Pada lagu Solo di Waktu Malam, Maladi menulis ”Daun berbisik di tepi sungai”, yang menyimbolkan para pemuda pejuang yang bertukar pikiran di kawasan Jurug dan Tirtonadi. Namun, perbincangan para pemuda itu dilakukan dengan berbisik, sementara pada Ombak Samudra terdapat lirik ”Kapan kau pulang ombak samudra. Kembali ke pantai bahagia”. Ini juga ekspresi kerinduan pada sesuatu yang membahagiakan, yang tiada lain adalah kemerdekaan.
Selain simbolisme dan cita-cita, ciptaan Maladi juga mencoba merekam sejarah. Di Sela-sela Rumput Hijau merupakan rekaman pemberontakan Peta di Blitar, Februari 1945, di bawah pimpinan Supriadi. Sementara Ombak Samudra mencatat peristiwa bertolaknya Soekarno dan Hatta ke Saigon untuk menemui Jenderal Terauchi akhir Juli 1945 dan Nyiur Hijau melukiskan fajar Indonesia Merdeka, yaitu ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dibentuk awal Agustus 1945.
Memuncaki penggunaan musik untuk menggelorakan semangat perjuangan menuju kemerdekaan tentu saja kiprah WR Supratman, yang sudah menggubah Indonesia Raya tahun 1928. Supratman menuliskan ”lagu kebangsaan” di bawah judul Indonesia Raya, hal yang kemudian dilarang Pemerintah Hindia Belanda. Seperti ditulis Bondan Winarno dalam buku tentang Indonesia Raya (2003), Gubernur Jenderal Jonkheer de Graeff mungkin saat itu beralasan, ”Untuk apa ada lagu kebangsaan bagi bangsa yang toh tidak ada?”Indonesia Raya yang susunan liriknya merupakan soneta (sajak 14 baris)—mengingatkan orang kepada Empu Walmiki ketika menulis epik Ramayana—segera setelah dikumandangkan menjadi seloka sakti yang mempersatukan bangsa. Belanda yang lebih suka menyebut bangsa Nusantara sebagai bangsa Jawa, Sunda, atau Sumatera, tahu potensi lagu ini untuk mempersatukan dan melarangnya. Tetapi, semakin dilarang, semakin kuatlah lagu ini menjadi penyemangat dan perekat bangsa.


Nasionalisme melalui musik
Dalam perjalanannya, musik Indonesia melahirkan satu genre yang dikenal sebagai seriosa. Sebagian mengangkat puisi penyair termasyhur, seperti Chairil Anwar, sebagai lirik (Cintaku Jauh di Pulau/FX Soetopo). Di Barat, genre ini dikenal sebagai art song atau lied (Jerman).
Dalam genre ini banyak pula terkandung elemen nasional, juga perjuangan. Tetapi, setelah sempat mengalami kejayaan di dekade 1960-an dan 1970-an, seriosa Indonesia meredup.Kalau semangat perjuangan melalui musik seriosa cukup ditopang vokalis dan pianis, semangat sama bisa pula diangkat ke dalam musik orkestra. Meski di Barat dikenal musik nasional yang hebat seperti Finlandia karya Sibelius dan Moldau (nama sungai besar yang melewati Praha) karya Smetana, pemusik Indonesia yang punya tekad dan kapasitas untuk mentransformasikan semangat tersebut ke dalam musik orkestra adalah mendiang Yazeed Djamin. Setelah menghasilkan musik orkestra untuk lagu seperti Betawi (Ondel-ondel), Yazeed—atas pesanan mantan Presiden BJ Habibie—menggubah Variasi Sepasang Mata Bola pada tahun 1999.Terlepas dari warna diatonik pada karya ini, Variasi Sepasang Mata Bola merupakan upaya untuk menghidup-hidupkan semangat kemerdekaan melalui musik.
Kemerdekaan, sebagaimana musik nasional yang pada masa lalu ikut membantu kelahirannya, kini sama-sama berhadapan dengan arus global yang kuat. Namun, dalam tekanan itu pula, melalui musik nasional selalu menyusup kenangan kebangkitan bangsa.Dalam kaitan ini pula kita terus merindukan pemusik ulung Indonesia, yang menjawab tantangan untuk melahirkan musik nasional sehingga kita bisa punya sosok, seperti Vaugh Williams yang unmistakably Inggris dan Aaron Copland yang tak salah lagi Amerika.
Komposer besar Italia, G Verdi, meyakini, ”Tiada hal yang bisa membungkam suara bangsa”. Kini pun, ketika masih banyak suara hati bangsa yang harus dikumandangkan ketika lidah masih belum sepenuhnya terampil mengatakannya, musik adalah kanalnya, sebagaimana telah diperlihatkan Ismail Marzuki, Maladi, dan WR Supratman pada masa prakemerdekaan.




KOMPAS.COM

Peninggalan Portugis di Batavia
 | Pingkan | Rabu, 2 Mei 2012 | 11:49 WIB
Warta Kota/ yp yudha
 Batavia Pertengahan Abad 16
SEJAK zaman lampau, Nusantara dipandang merupakan wilayah yang kaya. Karena itu berbagai bangsa asing datang ke sini untuk jangka waktu lama. Hubungan yang pertama kali dilakukan antarnegara adalah hubungan dagang. Lama-kelamaan hubungan itu berkembang menjadi hubungan sosial (misalnya perkawinan) dan hubungan politik (misalnya invasi atau penjajahan).Negara kita banyak didatangi bangsa asing, terutama dari Eropa, karena rempah-rempah kita dinilai berkualitas tinggi. Rempah-rempah sangat dibutuhkan oleh negeri beriklim dingin, sehingga berbagai bangsa Eropa itu berupaya mencari sendiri ke sini. Selain Belanda yang selama 350 tahun menjajah negara kita, jejak Portugis pun banyak dijumpai dalam berbagai ujud. Bangsa Portugis memang dikenal sebagai bangsa pelayar dan petualang yang tangguh.
Masa ekspansi kolonial Portugis dimulai pada 1385 ketika John I mendirikan Dinasti Aviz. Pada abad XVI daerah jajahan Portugis meliputi Amerika Selatan, Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Diperkirakan, timbulnya kolonialisme Portugis dimulai oleh "mimpi" seorang Pangeran bernama Dom Henrique, untuk mencari "dunia baru". Dia meninggalkan istana dan mendirikan sekolah nautika di Portugis Selatan. Di sana dia mengundang para ahli geografi dan kartografi terbaik Eropa. Dengan uangnya sendiri lalu dia membentuk sebuah armada kapal yang pergi berlayar mencari "dunia baru" tadi.
Pada awalnya mereka berhasil melewati Tanjung Harapan di Afrika. Maka rute ke wilayah Timur pun terbuka dan dalam sekejap tujuan-tujuan komersial memperkuat jiwa petualangan bangsa Portugis itu. Ketika mereka tiba di Goa, India, mereka mulai menyadari betapa pentingnya perdagangan rempah-rempah.

Setelah berhasil merebut Malaka di Malaysia pada 1511, maka Albuquerque mengirim sebuah ekspedisi untuk mencari Maluku. Dari sanalah Portugis mulai melakukan ekspansi ke seluruh wilayah Indonesia (Pengaruh Portugis di Indonesia, 2000). Dari rempah-rempah lalu berkembang menjadi hubungan militer, kebudayaan, etnis, komersial, dan agama.
Masa kolonialisasi Portugis di Indonesia antara lain dapat ditelusuri lewat tulisan seorang pengelana bernama Tome Pires. Catatan Pires banyak dipakai untuk merekonstruksi sejarah Indonesia pada abad XV. Tulisannya, Suma Oriental (Perjalanan ke Timur), dibukukan di London pada 1944.Catatan Pires yang dinilai penting antara lain tentang adanya Kerajaan Sunda di Jawa Barat (regno de cumda). Begitu pula tentang asal mula kota Jakarta, yang sampai kini masih menjadi polemik. Ketika itu, menurut Pires, pada 1522 di Sunda Kalapa, Portugis menandatangani perjanjian dengan pangeran setempat. Hasil kerja sama itu diujudkan dalam sebuah padrao. Padrao adalah sebuah tiang batu setinggi kira-kira dua meter, dengan suatu inskripsi yang menyatakan bahwa orang Portugis telah lewat di situ.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar